DOKUMENTASI

DOKUMENTASI
KEGIATAN PC IPPNU PONOROGO

Senin, 04 Juni 2012

CUPLIKAN MATERI MAKESTA (MASA KESETIAAN ANGGOTA)

A S W A J A
 ( AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH )

A. PENGERTIAN AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH
Kalimat Ahlussunnah Waljama’ah berasal dari bahasa arab yang terdiri dari tiga kata yaitu :
  1. Ahlun artinya : Golongan, keluarga, kelompok
  2. Assunnah artinya : sesuatu yang  berasal dari Rosullah bai barupa perkataan (qoulunnabi) perbuatan (fi’lunnabi), dan ketabahan nabi (taqrirunnabi)
  3. Al-Jama’ah artinya : Jamatus shohabah, Khulafaurrasyidin, Assawwadul ‘adhom (golongan mayoritas islam) Jadi pengertian Ahlussunnah Waljama’ah ialah: Golongan pengikut setia ajaran Islam yang murni sebagaiman siajarkan dan diamalkanoleh rosullah beserta para sahabatnya.
B. ASAL MULA ISTILAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
Istilah Ahlussunnah Waljama’ah dengan pengertian di atas berasal dari hadits rosulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani sbb:
Yang artinya: “telah berpecah belah umat Yahudi atas 71 golongan dan telah berpecah belah umat Nasrani atas 72 golongan dan akan berpecah belah umatku menjadi 73 golongan, yang selamat diantara mereka hanya satu, sedangkan sisanya binasa” sahabat bertanya : siapakah yang selamat itu? Nabi menjawab : “Ahlussunah Waljama’ah” sahabat bertanya lagi : Apakah Ahlusunah Waljama’ah itu?” nabi menjawab : “apa yang aku perbuat hari ini dan para sahabatku”.

C. LATAR BELAKANG KELAHIRAN AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH
Pada zaman Rasululah SAW tidak pernah timbul peredaan pendapat dikalangan umat Islam karena semua masalah dapat ditanyakan kepada Nabi dan langsung mendapat jawaban dari Nabi.
Dizaman Khulafaurrasyidin (11H- 14H) mulai timbul sedikit perbedaan pendapat yang pada umumnya menyangkut masalah hokum rumah tangga seperti perkawinan, perceraian dan masalah waris.
Perpecahan dikalangan umat Islam mulai timbul pada akhir pemerintahan Usman bin Afffan karena termakan propaganda Abdullah bin Saba’ seorang pendeta Yahudi asal Yaman yang mengaku masuk Islam dan berhasil mempengaruhi penndukung Ali bin Abi Tholib melahirkan golongan Syi’ah.
Pada tahun 37 H terjadilah perang shiffin antara ali dan Muawiyyah yang diakhiri dengan majlis tahkim. Kelompok Ali yang tidak setuju dengan majlis tahkim memisahkan diri dari Ali dan mendirikan golongan khawarij. Mereka memandang bahwa pelaku majlistahkim hukumnya kafir. Berbagi macam kejadian tersebut adalah tumbuh dan berkembang sebenarnya karena persoalan politik.
Pada sat-saat yang demikian ini, maka ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang pada hakekatnya adalah ajaran islam yang dipraltekkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dan para sahabatnya dipopulerkan kembali dan disistemkan oleh Imam Abu Hasan Al Asy’ari dan imam Abu Mansur Al Maturidi dalam bidang aqidah, oleh Imam Hanafi,Imam Maliki, Imam Syafi’I, dan Imam Hambali dalam bidang Syari’ah, oleh Imam Junaid al Baghdadi dan Imam Al Ghozali dalam bidang akhlak / tasawuf

D. PRINSIP SIKAP AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
Sebagai gerakan pemelihara kemurnian ajaran islam, kaum Ahlus Sunnah Wal Jama’ah selalu berpedoman kepada prinsip-prinsip antara lain sebagi berikut :
1.     At tawasuth ( Jalan Tengah )
Dengan prispip ini kita akan selalu mejadi kelompok yang dapat diterima oleh semua pihak dan selalu menghindari segala bentuk pendekatan bersifat ekstrim
2.    I’tidal ( Adil / Tegak Lurus )
Dengan sikap I’tidal kita harus berpegang kepada norma-norma yang sudah kita yakini kebenarannya dan menghindarkan diri dari segala bentuk penyimpangan
3.    Tasamuh ( Toleran )
Apabila terjadi perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan maupun dalam persoalan kemasyarakatan dan kebudayaan kita harus berlapang dada, tidak terburu-buru menerima atau menolak pendapat orang lain. Namun terhadap sesuatu yang sudah kita yakini kebenarannya kita harus berpegang kepada keyakinan kita.
4.    Tawazun ( Seimbang )
Sikap ini memberikan tuntunan kepada kita agar selalu menjunjung tinggi syariat dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat dengan prinsip keseimbangan. Seimbang antara dunia dan akhirat.

E. DASAR BERPIJAK AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
Ahlus Sunnah Wal Jama’h adalah golongan pengikut ajaran islam yang selalu berpegang teguh pada :
1.     Al Qur’an
Karena islam adalah wahyu yang bersumber dari Alloh sedangkan Al Qur’an adalah firman Alloh, maka sudah tentu pedoman hidup kita harus berpegang teguh kepada kitabullah.
2.    Sunnah Rosul
Al Qur’an bersifat global dan tidak rinci, karena itu Rosulloh diberi tugas untuk menjelaskan secara gambling agar umatnya dapat mengerjakan perintah Allah secara benar
3.    Ijma’ Para Sahabat
Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah selalu berpegang teguh pada sunnah sahabat Karen beberapa pertimbangan antara lain
a.    Para sahabat hidup sezaman dengan Rosullah, sehingga mereka mendenga langsung sabda Rosullah, melihat dan menghayati
b.    Banyak hadits yang menjelaskan kemampuan para sahabat dalam menghayati dan mengamalkan ajaran islam bahkan menganjurkan umat islam untuk mengikuti jejak langkah para sahabat.
4.    Qiyas ( Analog )
Qiyas adalah menetapkan hokum suatu perbuatan yang belum ada ketentuan hukumnya berdasarkan suatu hokum yang sudah ditentukan nash nya, karena persamaan antara keduanya.

 

KE  NU  AN

A. MABADI’ KHOIRU UMMAH

Secara harfiah berarti prinsip-prinsip dasar pembentukan umat terbaik. Pengertian lain adalah gerakan yang diarahkan pada semangat tolong-menolong dalam biodang ekonomi dengan meningkatkan pendidikan moral yang bertumpu pada tiga prinsip yaitu : Jujur , dapt dipercaya, dan tolong menolong.
Mabadi’ khoiru ummah meliputi lima butir yaitu :
1.     As Shidiqqu
Mengandung arti kejujuan atau kebenaran, kesungguhan atau mujahadah, keterbukaan
2.    Al Amanah wal Wafa bil Ahdli
Mengandung arti dapat dipercaya dalam hal diniyah maupun ijtimaiyah, setia, patuh dan taat kepada Alloh dan pimpinan, tepat janji melaksanakan semua perjanjian baik yang dibuat sendiri maupun yang melekat pada kedudukannya sebagai mualaf
3.    Al Adalah
Mengandung arti obyektif, proposional dan tat azas.
4.    At Ta’awun
Tolong menolong, setia kawan dan gotong royong dalam kebaikan dan taqwa. Atau timbal
5.    Istiqomah
Tetap dan tidak begeser dari jalursesuai dengan ketentuan dari Allah dan Rosullah,

 

B. KHIITAH NU
Khittah NU berarti garis-garis pendirian, perjuangan dan kepribadian Nahdlatul Ulama baik yang berhubungan dengan keagamaan maupun urusan kemasyarakatan baik perorangan maupun organisasi. Fungsi garis-garis itu dirumuskan sebagai landasan berfikir, bersikap dan bertindak. Warga NU yang harus dicerminkan dalam tingkah laku perorangan maupun organisasi serta dalam setiap proses pengambilan keputusan.

C. NU DALAM PERKEMBANGAN
Nahdlatul Ulama dalah organisasi sosial keagamaan yang hingga kini masih tetap kokoh dan berakar kuat terutama di pedesaan di pulau jawa dan Indonesia pada umumnya. Para pendirinya sendiri terdiri atas ulama pesantren yang derajat keilmuan agamanya tinggi dan kokoh dalam berpegang pada salah satu madzhab madzhab Ahluss Sunnah Wal Jama’ah. Faham Ahlus Sunnah Wal Jama’ah merupakan jiwa NU dan dipahami sebagai ajaran islam yang hakiki, nahkan mengilhami strategi dalam perjuangan NU. Ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang berintikan pertautan antara tauqid, fikih dan tasawuf. Tiga kesatuan inilah yang membetuk watak NU berbeda dengan organisasi islam lainnya. Nu selalu tampil fleksibel, toleran dan akomodatif baik dalam kehidupan sosial keagaman maupun kemasyarakatan.
Karena watak itulah seringkali NU menerima tuduhan sebagai oportunis, menurut kemauan penguasa dan menyenangkanpihak pemerintah. Tuduhan-tuduhan itu memng harus diterima NU sebagai kebenaran pandangan sepintas lalu. Sehingga dalam pandangan selanjutnya akan diketemukan perubahan sikap aatau watak NU yang sangat bertentangan dengan yang biasa ditampilkan. Watak itu akan segera berubah jika persoalan yang diahadapi baik keagamaan maupun kemasyarakatan, tidak sedikitpun terpaut dengan nilai-nilai yang dianut NU
Dengan liku-liku perjuangan NU tersebut, membuat NU semakin kaya pengalaman dan mantab dalam perjuangannya. Juga tidak kalah pentingnya dengan adanya pertautan fiqih (Islam), Tasawuf (Ikhsan) dan Tauqid (Iman) yang menjadi pedoman ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama'ah NU, sehingga membentuk watak, karakter, serta pandangan NU dan warganya


KEORGANISASIAN

I. PENGERTIAN ORGANISASI
Organisasi adalah proses kerja sama sejumlah yang terikat dalam hubungan formal dalam rangka untuk mencapai  tujuan yang telah ditentukan (Dr. Sarwoto, dasar-dasar organisasi dan manajemen) Organisasi adalah wadah sekumpulan orang yang mengabungkan diri dengan tujuan tertentu (HM. TAYLOR dan AG. Mears) Organisasi adalah tata hubungan antara orang-orang  untuk dapat memungkinkan tercapainya tujuan, kerja sama dengan adanya pembagian tugas dan tangung jawab (John M. Gains, Organisasi satu pengantar).
Dari pengertian di atas maka organsiasi dapat ditinjau dari dua sorotan :
1.       Organisasi sebagai wadah, di mana kegiatan admisnistrasi dilaksanakan sehingga bersifat statis atau seperti benda mati.
2.      Organisasi sebagai hal yang hidup, manakala kita menyaksikan bahwa organisasi dapat meprotes tindakan sewenang-wenang dari seorang oknum, organsiasi dapat merevolusi, mendukun dan tidak menyetujuinya  dari suatu kebijakan / kebijaksanaan.

II. UNSUR-UNSUR ORGANISASI
  1. PD dan PRT (Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga)
  2. Personalia Organisasi
  3. Struktur Organisasi
  4. Program organisasi
  5. pembagian kerja
  6. Permusyawaratan
III. MACAM-MACAM ORGANISASI
Organisasi terdiri dari berbagai macam, antara lain sebagai berikut:
  1. Organisasi kemahasiswaan                  : Ekstra dan Intra Kampus
  2. Organisasi profesi                    : Parfi, PWI, IKADIN dan IDI dll
  3. Organisasi minat                       : Persebaya, Mitra dll
  4. Organisasi Politik                      : PKB, PDI-P PAN dll
  5. Organisasi keagamaan               : NU,IPNU,IPPNU, Muhammadiyah
  6. Organisasi sosial                       : LSM, Dll

 

IV. TIMBULNYA ORGANISASI
  1. Spontan / sporadis;
  2. Diprakarsai;
  3. Dibentuk oleh organisasi yang telah ada;
  4. Penggabungan dan pemisahan organisasi yang ada




V. PENUTUP
Bagaimanapun juga keberhasilan suatu organisasi terletak pada kerjasama yang baik dan kejelasan program serta tujuan organisasi tersebut. Untuk itu beberapa cii yang baik dari suatu organisasi antara lain:
  1. Terdapat tujuan yang jelas.
  2. Tujuan organisasi harus dipahami dan diterima oleh setiap orang yang ada di dalam organisasi tersebut.
  3. adanya kesatuan arah (unity of direction)
  4. Adanya kesatuan perintah (Unity Of Command)
  5. Adanya pembagian tugas (Job description)
  6. Adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab.
  7. penembapatan orang sesuai dengan ahlinya.


KEPEMIMPINAN
 I. PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari, pada nmsuatu kelompok mulai dari yang kecil seperti keluarga hingga kelompok yang besar seperti organisasi sampai negara diperlukan adanya suatu pemimpin dan kepemimpinan.
Untuk memimpin dengan berhasil diperlukan kiat-kiuat tertentu yang membantu seorang pemimpin untuk berpikir, berbicara bahkan bertindak dalam kerangka tujuan yang ingin dicapai. Konsep berpikir yang jelas dari seorang pemimpin sangat diperlukan dan idealnya harus dapat dimengerti bawahannya. Dalam batas terntu, sepanjang untuk keperluan lembaganya.
Dengan demikian kegagalan dan keberhasilan suatu organisasi sebagian besar bergantung pada kualitas pemimpin organisasinya. Berangkat dari hal tersebut, orang akan cenderung mengatakan bahwa kesimpulan tersebut dilatarbelakangi oleh budaya bangsa Indonesia yang secara umum berpola paternalistik, atau berorientasi kepada “Bapak” , “Patron”, Pemimpin”, “yang lebih senior”, atau yang sejenisnya. Saya tidak mengingkari kebenaran latar belakang itu, namun saya hendak membawa keranah yang lebih luas.
Pada dasarnya, manusia adalah ciptaan Tuhan  yang mendapat tugas untuk menjadi pemimpin dunia (khalifatullah). Tugas pertama adalah untuk memimpin dirinya sendiri sendiri. Sayangnya, tidak jarang tugas ini yang tidak mampu kita lakukan. Kita mampu mendidik orang lain - anak buah kita - untuk mempunya disiplin, misalnya, namun kita sendiri tidak mau disiplin. Kita mampu membuat orang lain mematuhi aturan, namun kita sendiri tidak mampu (atau tidak mau) mengikuti aturan tesebut. Kesemuanya Karena kita tidak meliki kompetensi kepemimpinan)  
                                                                                                                                                                                                                             
II. FUNGSI KEPEMIMPINAN 
Sebelum kita memahami fungsi daripada kepemimpinan terlebih dahulu mari kita pahami makna kepemimpinan. Secara etimologi leadership  (Kepemimpinan) berasal dari bahasa Inggris yang artinya pemimpin atau kepemimpinan. Atau adapun secara terminology dapat dirumuskan sebagai berikut: Kepemimpinan adalah kemampuan atau kesiapan yang dimiliki oleh seseorang yang dapat mempengaruhi, medorong, mengajak, menunutun, menggerakkan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh tersebut, selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu pencapaian sesuatu maksud atau tujuan.
Salah satu hal yang perlu dipahami bersama adalah bahwa kepemimpinan  berbeda dengan keilmuan dan manajemen. Kepemimpinan adalah praktek dan bukan teori saja. Oleh karena itu tugas pokok kepemimpinan adalah mengambil keputusan-keputusan strategis, maka tatkala menjadi pemimpin yang terutama adalah bagaimana kita memiliki tiga pilar utama kepemimpinan. Yakni kemampuan yang meliputi Intellectual Quality, Emotional Quality dan Spiritual Quality. Sehinga dengan demikian tidak cukup dengan intelektual quality saja. Kualitas intelektual membuat kita mampu memilih data, informasi, dan opini. Data emosional akan menunjukkan bahwa kita mampunyai kemampuan untuk membuat keputusan dengan tepat, dan akurat. Dengan pengusaaan Spiritual Quality kita mempunyai fondasi nilai bahwa keputusan yang kita buat, apapun keputusan itu, harus kita pertanggungjawabkan sendiri – mengingat, pemimpin selalu berkapasitas alone-ness. Dalam ranah intelektual, pertanggungjawaban kita berikan kepada keilmuan dan standard-operating-procedures  yang sudah ada. Dalam ranah emosional, pertanggungjawaban kita berikan kepada manusia-mansusia lain yang terkait sebagai manusia. Dalam ranah spiritual, pertanggungjawaban akan diminta setelah kita mati dan menghadap Yang Maha Kuasa.
 Alhasil, kita harus memahami tugas daripada seorang pemimpin adalah  sebagai pelopor dan penanggungjawab, ideology dan planner, bapak dan ibu atau orang tua dan symbol of group, contoh dan pendukung , pengarah dan penggerak, wakil dari anggota dan pengembang imajinasi. Dengan demikian, si pemimpin bukan pemimpin saja, namun  seorang bapak, penasehat, pelindung dan  teladan. Pepatah mengatakan “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing  Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani  adalah BENAR!.

III. TIPOLOGI KEPEMIMPINAN
Ada empat macam tipe atau sifat-sifat seorang pemimpin:
1.     Karismatik, yaitu: pemimpin yang mempunyai daya tarik dan wibawa yang sangat tinggi, bisa dimiliki oleh orang-orang yang sangat alim lagi sholeh, meskipun orang tersebut sangat mudah melimpahkan pengaruh kepada orang lain.
2.    Otokratik yaitu: pemimpin yang tidak dapat mendengarkan kritik, pendapat atau saran dari orang lain atau bawahannya, dalam mencpai tujuan disesuaikan dengan keinginannya sendiri atau pribadi, sehingga pendekatan pada bawahan dengan cara paksaan.
3.    Liberal yaitu: pemimpin yang tidak tahu menahu dengan persoalan bawahannya dan mebiarkan bawahannya mencari masalah dan  pemecahannya sendiri.
4.    Demokratik yaitu: kekuasaan sepenuhnya pada anggota, segala keputusan berdasarkan keputusan musyawarah. Bersama dengan anggotanya pemimpin mencari masalah dan  pemecahannya

IV. SIFAT-SIFAT PEMIMPIN SEORANG PEMIMPIN
1.     Niat hikmah kepada Allah SWT dan organisasi 
2.    Adil, setia dan ikhlas berkorban serta pantang menyerah.
3.    Penuh energi dan inisiatif juga gemar beraktifitas.
4.    tidak emosional, simpatik, sopan dn fleksibel.
5.    Cakap, banyak akal, terampil, komunikatif dan terbuka.
6.    Tidak mudah-menunda perkerjaan dan selalu siap mental untuk jatuh dan tumbuh kemali.
7.    Taqwa kepada Allah SWT.
Demikian pula bagi seorang pemimpin hendaknya memiliki suatu sifat atau karakter yang senantiasa harus dijadikan suatu pedoman atau dasar yang meliputi hal-hal berikut:
1. Shidiq       : Benar dalam keyakinan, ucapan dan tindakan.
2. Amanah    : Terpercaya dalam keyakinan, ucpan, dan tindakan.
3. Tabligh    : Penyampai dalam keyakinan, ucapan, dan tindakan.
4. Fathonah  : Cerdas dan peka atau cepat tangap terhadap problema
  yang terjadi dalam masyarakat.

V. SIFAT KEMASYARAKATAN SEORANG PEMIMPIN
Sudah menjadi suatu kewajaran, bahwa seorang pemimpin hendaknya mampu dan bisa untuk senantiasa berinteraksi dengan masyarakat disekitarnya dengan secara meluas. Dengan demikian seorang pemimpin dalam hidup bermasyarakat hendaknya juga memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
  1. Tawasuth dan I’tidal
Sikap tengah dan berintikan pada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidupan bersama, dengan sikap dasar ini akan menjadi kelompik, panujtan yang bersikap dan bertindk lurus serta selalu bersifat membangun.
  1. Tasammuh
Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama masalah yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan.
  1. Tawazzun
Sikap berimbang dalam berkhikmah, menyerasikan khikmah kepada Allah SWT. Khikmah kepada manusia, serta lingkungan hidpupnya, menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini dan masa mendatang.
  1. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik, berguna dan bermanfdaat bagi kehidupan besama, serta menolak dan mencegah semua hal-hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.
“Apa Yang Paling Penting Dari Seorang Pemimpin Adalah Mengamalkan
Terhadap Apa Yang Diyakini (Walk Talk)”

KE  I P P N U   AN

A. PENDAHULUAN

Keberadaan dan nama besar organisasi akan nampak nyata jika penggerak organisasi mampu membawa dan menempatkan organisasi pada posisi strategis dengan system administrasi dan manajemen yang proposional dan professional. Jika kita sadari pesan dari Buya Hamka “ janganlah kita memasukkan emas dan permata kedalam gubuk kita, tetapi bangun dulu gubuk kita menjadi gedung yang megah baru kita masukkan emas dan permata tersebut “
IPPNU sebagai wadah pembinaan bagi generasi muda NU dalam membangun idiologi, moral, wawasan, ketrampilan dan bakat mempunyai konsekuensi dalam kepentingan dan cita-cita berdasarkan nilai-nilai agama islam. Dalam usaha merealisasikan gagasan organisasi, maka perlu perencanaan yang matang, penyelerasan arah tujuan serta kebijaksanaan organisasi secara berkelanjutan dalam mekanisme system organisasi.

B. SEJARAH BERDIRI DAN PERKEMBANGAN  I P P N U
IPPNU sengaja dilairkan untuk menggalang adanya persatuan dan kesatuan generasi muda NU dengan faham Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yangb tidak hanya bersifat local atau kedaerahan tetapi bersifat Nasional.
Gagasan tersebut dapat direalisasikan pada konggres IPNU yang pertama di Solo tanggal 8 Rojab 1374 H yang bertepatan dengan tanggal 2 Maret 1955 M, maka dibentuklah organisasi IPPNU dengan kepanjangan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama dengan ketuanya rekanita UMROH MAHKUDHOH.
Namun pada perkembangan selanjutnya disebabkan karena tuntutan perkembangan zaman serta peraturan yang ada tentang ormas maka pada konggres IPPNU ke XI di Jombang pada tanggal 29-30 Januari 1988 maka kepanjangan IPPNU diubah menjadi Ikatan Putri Putri Nahdlatul Ulama.
Namun pada era reformasi keadaan bangsa semakin tidak menentu, maka IPPNU dituntut untuk lebih tanggap dalam menghadapi hal seperti itu. Pada era ini muncul kesadaran institusi untuk mengembalikan IPPNU kepada Khittohnya yaitu sebagai organisasi yang berbasis pelajar dan santri. Keinginan tersebut bisa terwujud ketika Konggres IPPNU ke XV di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Dengan demikian IPPNU yang semula kepanjangannya Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama kembali lagi menjadi Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama dengan konsekuensi-konsekuensi yang ada, antara lain :
1.     IPPNU harus memperjelas visi kepelajarannya
2.    IPPNU harus menumbuh kembangkan pada basis perjuangan disekolah dan pondok pesantren
C. DASAR, TUJUAN DAN SIFAT IPPNU
a.    Dasar, Azas dan Aqidah
IPPNU berazaskan pada pancasila dengan aqidah islam menerut faham Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang mengikuti salah satu madzab empat yaitu Hanafi, Maliki, Hambali dan Syafi’i
b.    Tujuan
Membentuk pelajar putrid yang bertaqwa pada Allah, berilmu dan berakhlak mulia dan bertanggung jawab atas tegak dan terlaksananya ajaran islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dalam kehidupan masyarakat Indionesia dengan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
c.    Sifat dan Fungsi
Sifatnya kekeluargaan dan kemasyarakatan.
Sedangkan fungsinya:
1.     Wadah menghimpun putra-putri NU untuk melanjutkan semangat dn nilai Nahdliyah.
2.    Wadah putra-putri NU untuk menggalang ukhuwah Islamiyah.
3.    Wadah kaderisasi putra-putri NU untuk mempersipkan kader-kader bangsa.

D. LAMBANG ORGANISASI IPPNU
1.     Lambang organisasi bernbentuk segi tiga adalah iman, islam dan ihsan dua garis tepi berarti dua kalimah syahadat;
2.    Warna dasar hijau adalah kebenaran, putih adalah kesucian, kuning adalah hikmah yang tinggi;
3.    Bintang sembilan adalah:
- Satu bintang besar adalah Nabi Muhammad SAW;
- Empat bintang atas kanan kiri adalah khulafaur rosyidin;
- Empat bintang bawah kanan kiri adalah empat madzhab.
4.    Dua kitab adalAh Al-Qur’an dan Al-Hadis;
5.    Bulu ayam bersilang adalah aktif menuntut ilmu baik umum maupun agama serta rajin membaca atau menulis;
6.    Dua kumtum melati warna putih adalah kepaduan antara agama dan umum;
7.    Lima titik antara I . P . P . N . U . adalah rukun islam.


KORP KEPANDUAN PUTRI  (KKP)

 

LATAR BELAKANG SEJARAH
 Corp Brigade Pembangunan (CBP) dan Korp Kepanduan Putri (KKP) Merupakan lembaga yang di bentuk berdasarkan keputusan Kongres IV IPNU- IPPNU tahun 1965 di Pekalongan. Pada awal terbentuknya lembaga ini merupakan wadah bagi pemuda dan remaja NU untuk mengokohkan barisan dalam mengimbangi munculnya barisan-barisan yang mengibarkan panji-panji komunis .
Semangat euforia untuk mengganyang PKI dikalangan pelajar IPNU-IPPNU yang kemudian melahirkan Front Kepalangmerahan merupakam cikal bakal kalahiran CBP. Semangat partisipasi yang tinggi juga melahirkan CBP-Wati yang bersama-sama dan bahu membahu dalam berpartisipasi dan mengabdi .dalam sejarah perjalanannya CBP mengalami kemunduran seiring dengan hancurnya kekuatan komunis di Indonesia,dengan dipenuhinya kehendak rakyat yang tercermin dalam “TRI TURA” oleh pemerintah pada saat itu .
 CBP-Wati pada saat ini gaungnya mulai dimunculkan kembali, dan CBP-Wati berubah nama menjadi KKP (Korp Kepanduan Putri ) yang diputuskan dalam amanat kongres XII IPPNU di Makasar serta dalam pengukuhannya telah ditetapkan dalam kongres XIII IPPNU di Surabaya.
Munculnya kembali KKP, dengan mengadakan perubahan – perubahan yang disesuaikan dengan dinamika dan kebutuhan orgasnisasi dalam masyarakat saat ini. Hal ini dapat dilihat dengan berubahnya orientasi CBP-Wati yang pada awalnya untuk mengimbangi munculnya barisan yang mengibarkan panji panji komunis maka KKP lebih menekankan pada kreatifitas, sportifitas, dan kedisiplinan kader serta kepedulian dan kesadaran terhadap lingkungan alam dan sosial dengan mempertimbangkan kondisi psikis,fisik, dan geografis masyarakat Indonesia khususnya di jawa timur.

DASAR HUKUM

          Lembaga Korp Kepanduan Putri (LKKP) di deklarasikan dan diaktifkan di Indonesia berdasarkan :
1.     Kongres IPPNUXII di Makasar Sulawesi Selatan pada tanggal 21-24           Maret 2000  
2.    Kongres IPPNU XIII di Surabaya  Jawa Timur pada tanggal 18-21 Juni 2003
3.    Rakernas IPPNU di Jakarta pada tanggal 11-13 Juni 2004

VISI KKP

Visi KKP adalah terciptanya kader yang berkwalitas dan peduli terhadap lingkungan .

MISI KKP

Misi KKP adalah :
1.     Mengembangkan bakat dan minat kader
2.    Menumbuhkan kepedulian kader terhadap lingkungan
3.    Meningkatkan kesadaran kader terhadap pentingnya kesehatan
4.    Membentuk pribadi kader yang berakhlakul karimah
5.    Meningkatkan kedisiplinan sportifitas kader

TUJUAN KKP

Tujuan KKP adalah wadah untuk mengasah diri, mengembangkan kreatifitas dalam meningkatkan hablun minal Alloh, hablun minan Naas dan hablun minal Alam

BENTUK DAN FUNGSI KKP

-          Lembaga KKP adalah lembaga semi otonom.
-           
Fungsi KKP adalah :
1.      Wadah pengembangan minat dan bakat anggota
2.     Wadah untuk berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat
3.    Sebagai wahana untuk pengembangan sumber daya manusia agar memiliki kualitas
4.     Untuk mengembangkan diri di masyarakat.

TINGKATAN DAN STRUKTUR ORGANISASI KKP
Tingkatan KKP adalah
1.   Dewan Koordinasi Nasional Korp Kepanduan Putri (DKN-KKP) tingkat pusat
2.  Dewan Koordinasi  Wilayah Korp Kepanduan Putri (DKW- KKP) untuk tingkat wilayah.
3.  Dewan Koordinasi Cabang Korp Kepanduan Putri (DKC- KKP) tingkat cabang.
4.  Dewan Koordinasi Anak Cabang Korp Kepanduan Putri (DKAC- KKP) untuk tingkat anak cabang .
5.  Regu-regu Korp Kepanduan Putri (Regu- KKP)  tingkat ranting dan komisariat

Struktur Organisasi KKP adalah
1. Pimpinan Tertinggi dipimpin oleh seorang  Koordinatoor
2.    Tiga (3) Wakil  Koordinator membantu Koordinator dalam melaksanakan tugas
a.    Wakil Koordinator Bidang Kepanduan
b.    Wakil Koordinator Bidang Kesehatan
c.    Wakil Koordinator Bidang ke-Pencipta alam
3.    Sekretaris melaksanakan pengendalian dalam ke- Administrasian KKP
4.    Bendahara melaksanakan pengendalian  keuangan KKP
5.    Anggota Bidang



KERANGKA ANALISA SOSIAL

A. Apakah Analisa Sosial itu?

Ansos merupakan upaya untuk mengurai logika, nalar, struktur, dan atau kepentingan dibalik sebuah fenomena sosial. Ansos bukan semata deskripsi sosiologis dari sebuah fenomena sosial. Ansos hendak menangkap logika struktural atau nalar dibalik sebuah gejala sosial. Ansos dengan demikian material, empiris, dan bukan sebaliknya, mistis, atau spiritualistik. Ansos menafsirkan gejala sosial sebagai gejala material, dus kekuatan dan gagasan ideologis dibalik gejala sosial.

B. Fokus dalam Analisa Sosial

  1. Sistem-sistem yang beroperasi dalam suatu masyarakat
  2. Dimensi-dimensi obyektif masyarakat (organisasi sosial, lembaga-lembaga sosial, pola perilaku, kekuatan-kekuatan sosial masyarakat)
  3. Dimensi-dimensi subyektif masyarakat (ideologi, nalar, kesadaran, logika berpikir, nilai, norma, yang hidup di masyarakat).

C. Pendekatan dalam analisas sosial

  1. Historis: dengan mempertimbangkan konteks struktur yang saling berlainan dari periode-periode berbeda, dan tugas strategis yang berbeda dalam tiap periode.
  2. Struktural: dengan menekankan pentingnya pengertian tentang bagaimana masyarakat dihasilkan dan dioperasikan, serta bagaimana pola lembaga-lembaga sosial saling berkaitan dalam ruang sosial yang ada.

D. batas-batas analisa sosial

1.     Ansos  bukanlah kegiatan monopoli intelektual, akademisi, atau peneliti. Siapapun dapat melakukan ansos
2.    Ansos  tidaklah bebas nilai. Ansos memungkinkan kita bergulat dengan asumsi-asumsi kita, mengkritik, dan menghasilkan pandangan-pandangan baru.

E. Rambu-rambu analisa sosial

1.     Masyarakat senantiasa berkembang secara kompleks.
2.    Masyarakat selalu mengalami perubahan, dinamis, tidak statis.
3.    Melakukan ansos berarti memasuki wilayah konflik, sengketa.
4.    Tidak dogmatik, dapat menggunakan berbagai perspektif yang ada.
5.    Pusat ansos adalah nilai keadilan sosial di masyarakat.

F. Langkah-langkah melakukan ansos

1.     Mendeskripsikan  persoalan sosial
2.    Melacak  akar persoalan, dengan mengurai:
a.    Melihat kesejarahannya (melihat faktor-faktor historis yang mempengaruhi terbentruknya situasi sosial)
b.    Konteks global, nasional, dan lokal
c.    Menguraikan anatomi dan hubungan antara berbagai struktur ekonomi, politik, sosial, dan budaya, terhadap terbentuknya situasi sosial yang ada
d.    Memetakan struktur dominan/utama yang mempengaruhi terbentuknya situasi sosial yang ada
e.    Menguraikan the dominant ideology/nilai-nilai kunci yang mempengaruhi kesadaran sosial masyarakat.
f.    Struktur konflik
g.    Aktor yang terlibat
3.    Merumuskan jawaban
4.    Menyusun tahapan realisasi
5.    Aktor yang harus dilibatkan
6.    Gempuurrrrrrrr!!!
7.    Refleksi
8.    Rekomendasi

Panduan Analisa sosial dalam live in di masyarakat

  1. Tentang keluarga/lingkungan  yang kita tempati
    1. Berapa jumlah  keluarga, tingkat pendidikannya
    2. Ststus hubungan anggota keluarga
    3. Kualitas relasi dan komunikas antar anggota keluarga
    4. Pola pengambilan keputusan keluarga
    5. Jenis pekerjaan, pendapatan, mencukupi atau tidak
    6. Pengeluaran keluarga, tabungan
    7. Kondisi lingkungan fisik keluarga (bangunan, sanitias, kebersihan, dll)
    8. Pembagian peran atau tanggung jawab dalam  keluarga
    9. Kesibukan waktu luang
    10. Problem-problem keluarga, cara mengatasinya
  2. Tentang corak produksi/pekerjaan masyarakat
    1. Pekerjaan utama, mengapa memilih itu, makna kerja bagi mereka
    2. Proses hingga memiliki pekerjaan
    3. Kesulitan yang dihadapi dalam bekerja
    4. Bagaimana menghadapinya
    5. Pendapatan harian,mingguan, bulanan
    6. Jam perhari untuk kerja
    7. Yang menyenangkan dalam kerja, mengapa
  3. Tentang nilai dan budaya yang berkembang
    1. Nilai atau kepercayaan hidup yang dianut masyarakat, seberapa kuat mempengaruhi hidup
    2. Pandangan tentang hidup
    3. Pandangan tentang kemiskinan
    4. Kepuasan terhadap kondisi hidup saat ini
    5. Pandangan tentang masa depan
    6. Keterbukaan terhadap orang atau ide baru atau asing
    7. Pandangan tentang kesuksesan hidup
    8. Harapan terhadap masyarakat lain dan pemerintah

10 Langkah Pengorganisiran Masyarakat
1.     Integrasi: menjadi bagian dari komunitas  (terencana, kreatif, fleksibel)
A.   Tinggal di dalamnya
B.    Empati
C.    Mendekati tokoh-tokoh kunci
2.    Investigasi sosial: Menggali masalah dalam masyarakat  (obyektif, kritis, skeptis)
A.   Meneliti catatan masalah
B.    Memetakan masalah yang ada
C.    Merasakannya
D.   Menanggapi
3.    Program sementara: media perekat aktifitas (relevan, kontekstual, inspiratif)
A.   Mempekuat komunikasi
B.    Mempekuat intensitas interaksi
4.    Ground Work: sosialisasi dan pengujian program sementara (partisipatif, prpaktif, persuasif)
A.   Proses-proses partisipatif untuk mempertajam isu serta kesepakatan aksi-kasi konkret
5.    Pertemuan: penegsahan kesepakatan (fokus, spesifik, terukur)
A.   memperkuat kebersamaan dalam aksi
6.    Simulasi: latihan dialog dan negosiasi tuntutan aksi (antisiptaif, preskiptif, kalkulatif)
A.   Keterlibatan secara kognitif, afektif, dan konatif dalam diri individu untuk mengantisipasi berbaga kemungkinan
7.     Mobilisasi: pengrahan rakyat (antisipatif, efektif, kreatif, dan atraktif)
A.   gerakan sosial yang sadar dan berdaya
8.    Evaluasi  (kritis,obyekif, sistematik, konstruktif)
A.   Kritik oto kritik
B.    Solusi dan rekomendasi aksi
9.    Refleksi: mengambil makna (demokratis, apresiatif)
A.   Internalisasi nilai-nilai dalam kesadaran kritisnya
B.    Penguatan kesadaran
10. Organisasi: pembentukan organisasi (holistik, komprehensif, partisipatif)
A.   struktur yang dibutuhkan
B.    mekanisme kerja
C.    mekanisme kontrol
D.   pengelolaan

1 komentar: